
Perebutan kekuasaan antara Sultan Zainul Arifin dan Hubabah Fatimah menjadi awal dari pemberontakan Banten. Hubabah Fatimah, yang didukung oleh Gubernur Jendral VOC Baron Van Imhoff, berhasil menyingkirkan Sultan Zainul Arifin dan Pangeran Gusti, putera mahkota. Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang memimpin pemberontakan untuk menggulingkan Hubabah Fatimah dan mengembalikan kekuasaan kepada Sultan yang sah.
Pasukan Tubagus Buang dan Kyai Tapa (Penghulu Agung Mustafa) dari luar keraton berhasil menumpas pasukan Ratu Hubabah Fatimah yang mengkudeta Kesultanan Banten dari tahta suaminya, Sultan Abul Fatchi Muhammad Syifa’u Zainul Arifin. Ratu Hubabah Fatimah difitnah telah melakukan kudeta dengan dukungan VOC.
Pada tahun 1752 M, Pangeran Arya Jayasentika mendirikan pemerintahan darurat setelah berhasil merebut kembali tahta yang sempat dikudeta oleh Ratu Hubabah Fatimah. _Pangeran Arya Jayasentika_ kemudian menjadi Sultan Wakil dan mengembalikan kekuasaan kepada Pangeran Gusti selaku pewaris tahta kesultanan yang tak lain keponakannya, bergelar _Sultan Abunashr Muhammad Arif Syifa’u Zainal Asyikin._
Dari pemerintahan darurat ini, lahirlah penerus garis pemimpin kesultanan Banten terakhir yang konsisten mempertahankan marwah, eksistensi, dan kejayaan Kesultanan Banten hingga puncaknya meletus peristiwa Geger Cilegon 1888.
Penulis: FG
| Luas Area | 300 m2 |
| Luas Bangunan | 150 m2 |
| Status Lokasi | Pribadi |
| Tahun Berdiri | 2025-2026 |