Minggu, 17 Mei 2026

Terbit : Kam, 05 Maret 2026

Menjawab Ceramah Habib: Empat Imam Mazhab Yang Pantas Menjadi Muridnya!

Oleh : Creative Team Edukasi
Menjawab Ceramah Habib: Empat Imam Mazhab Yang Pantas Menjadi Muridnya!

Kenapa Mazhab di Islam Hanya ada Empat? Pernahkah kita bertanya, kenapa mazhab fiqih dalam Islam itu hanya ada empat saja? Mazhab Hanafiy diasas oleh Imam Abu Hanifah, mazhab Maliki diasas oleh Imam Malik bin Anas, mazhab Syafi’i diasas oleh Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, dan mazhab Hanbali diasas oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal.

Apakah hanya empat orang itu saja yang hebat dalam fiqih sepanjang sejarah Islam? Kenapa tidak ada, misalnya, mazhab Bakriyyah (Nisbah kepada Abu Bakar ash-Shiddiq), mazhab Umariyyah (Nisbah kepada Umar bin Khattab) atau mazhab Hasaniyyah (Nisbah kepada Hasan al-Bashri), mazhab Sa’idiyyah (Nisbah kepada Sa’id bin Musayyab), mazhab Zuhriyyah (Nisbah kepada Ibnu Syihab az-Zuhri) dan sebagai nya.

Bukankah Sa’id bin Musayyab dan Ibnu Syihab az-Zuhri adalah guru para imam yang empat itu (Baik langsung maupun tidak langsung)? Tentu mereka lebih alim dan faqih, tapi kenapa tidak ada mazhab yang dinisbahkan kepada mereka?

Yang penting kita pahami adalah bahwa istilah “Mazhab” meskipun bisa diartikan dengan pendapat seperti dalam kalimat: “ini pendapat si fulan” tapi sesungguhnya pengertian mazhab tidak sesederhana itu.

Anda memang bisa mengatakan, “Mazhab saya tentang bahagia adalah bahagia itu sederhana…” Atau misalnya mengatakan, Mazhab saya dalam hidup ini “Terhimpit ingin di atas, terkurung ingin diluar” (Terjemahan bebas dari peribahasa Minang), dan sebagainya.

Tapi tentu mazhab yang Anda maksudkan di sini hanya berarti pendapat atau pilihan. Boleh jadi saja apa yang Anda sebut sebagai mazhab itu adalah hasil plagiasi, mengambil punya orang atau catut pendapat seorang pakar lalu dinisbatkan pada diri sendiri biar kelihatan “Hebat”.

Sementara mazhab dalam dunia fiqih, sesungguhnya terbentuk melalui proses yang panjang. Mazhab bukanlah hasil pikiran seorang remaja yang sedang puber ilmu, lalu kemudian mendapat keberuntungan sehingga namanya diabadikan sebagai salah satu imam mazhab. Tidak.

Mazhab dalam fiqih begitu juga dalam pemikiran, terbentuk melalui serangkaian proses ilmiah yang panjang dan berat, serta seleksi alam yang ketat. Mazhab bisa diibaratkan seperti sebuah madrasah besar yang menjadi tempat berkumpulnya para ulama yang memiliki pola dan sudut pandang yang relatif sama. Ini tidak berarti mereka selalu sependapat dalam semua hal. Tetap saja ada perbedaan pendapat di antara mereka karena perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Namun mereka berangkat dari ushul (Pondasi) pemikiran yang sama.

Namun jangan juga dibayangkan bahwa berdirinya sebuah mazhab sama seperti berdirinya sebuah madrasah atau sekolah. Dimulai dengan peletakan batu pertama, lalu ada peresmian apalagi pakai gunting pita segala, kemudian dibuka pendaftaran. Kan tidak mungkin Imam Abu Hanifah mengeluarkan sebuah pengumuman, “Ayo, siapa yang mau bergabung ke dalam mazhabku silahkan mendaftar.?”

Mari kita simak uraian padat Imam Abu Zahrah tentang proses terbentuknya sebuah mazhab berikut ini:

المذهب يقتضي أن يتكون من منهاج علمي لفريق من الدارسين الباحثين ، يبنون فيه أصولا لتفكيرهم متميزة واضحة ، ثم يكون لكل منهاج طائفة أو مدرسة تعتنق هذه الأصول وتدافع عنها وتقويها بموالاة البحث والدراسة (تاريخ المذاهب الإسلامية ص 21)

Mazhab terbentuk dari metode ilmiah se kelompok pengkaji dan peneliti. Di dalamnya mereka menuangkan pondasi berpikir yang jelas dan terarah. Metode yang digagas itu kemudian “dianut”, diperjuangkan, dibela oleh sekelompok atau madrasah, dan selalu dikokohkan dengan berbagai kajian dan penelitian yang tak kenal lelah.

Jadi, keempat mazhab yang masih bertahan sampai saat ini sesungguhnya merupakan empat madrasah besar yang dibangun dari hasil pemikiran dan kajian para ulama sepanjang sejarah. Dan mereka tidak tampil ke panggung fiqih begitu saja. Mereka adalah hasil tempaan madrasah keilmuan yang turun temurun dari mulai generasi sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan bermuara pada mereka.

Imam Abu Hanifah sendiri merupakan hasil tempaan para ulama ternama dari kalangan tabi’in seperti Imam Hammad bin Abi Sulaiman, Ibrahim an-Nakha’i, asy-Sya’bi, ‘Atha bin Abu Rabah dan para imam besar lainnya.

Mazhab yang dinisbahkan kepada beliau, “Hanafiyyah”, sesungguhnya bukan hasil pikiran beliau sendiri, melainkan hasil mudzakarah, mubahatsah dan kajian yang tak kenal lelah antara beliau dengan murid-murid unggulnya seperti Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, Zufar, dan lain-lain.

Imam Malik bin Anas merupakan hasil binaan dari para ulama ternama di Madinah seperti Salim bin Abdullah bin Umar, Nafi maula Ibnu Umar, dan Fuqaha Sab’ah (Ahli Fiqih Yang Bertujuh). Mereka adalah Sa’id bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Abu Bakar bin Ubaid bin al-Harits, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, Sulaiman bin Yasar yang merupakan maula Ummul Mukminin Sayyidah Maimunah binti al-Harits, Kharijah bin Zaid bin Tsabit.

Menyebut nama-nama mereka saja hati ini “Gentar” dan sangat ta’zhim pada kedalaman ilmu dan kefaqihan mereka. Begitu juga dengan Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Ilmu Fuqaha Sab’ah (Ahli Fiqih Bertujuh) ini diserap oleh dua imam besar, Muhammad bin Syihab az-Zuhri dan Rabi’atur Ra`yi. Kedua imam ini merupakan guru utama Imam Malik bin Anas.

Jadi, kalau ada Habib maupun Ustadz muhibbin zaman now mengatakan bahwa, “Pendapat saya tentang masalah A adalah begini-begini…” Lalu ia ditanya, “Siapa guru Anda?” Ia menjawab, “Syekh Fulan…” (Seorang ulama dari Tarim Hadramaut sana…), kemudian ditanya lagi, “Guru Syekh Fulan itu siapa?” Ia pun terdiam, karena sanad ilmunya “Mentok” sampai di Habib Fulan itu saja. Kalau ada yang seperti ini maka kita cukup angguk-angguk kepala saja sambil berbisik dalam hati: “Yang begini mau menyelisihi para imam mazhab?”

Muncul pertanyaan, kenapa mazhab yang diakui itu hanya empat saja?

  • Pertama: Kita telah jelaskan bahwa empat mazhab itu sudah merupakan hasil pemikiran, ijtihad, dan adu argumen para ulama lintas generasi.
  • Kedua: Sejak terjadi fitnah pasca terbunuhnya Khalifah Utsman, banyak bermunculan hadits palsu. Ini tentu berimbas kepada fiqih. Karena bagaimanapun materi pokok fiqih adalah al-Quran dan Hadits.

Beruntung fiqih para sahabat telah direkam dengan sangat baik oleh murid-murid unggul mereka dari kalangan tabi’in, seperti Hammad bin Abi Sulaiman, Ibrahim an-Nakha’i, ‘Atha`, Ibnu Syihab az-Zuhri, Sa’id bin Musayyab, Nafi’, Mujahid dan lain-lain. Ilmu mereka ini yang kemudian diserap oleh Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan seterusnya.

Karena itu, mazhab yang dinisbahkan kepada Umar bin Khattab, misalnya yang tidak datang dari jalur para imam yang empat, bisa dikeragui kevalidannya, kecuali yang datang dengan riwayat yang shahih sebagaimana dirangkum dalam kitab Mushannaf Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah.

Jadi masalah utamanya terletak pada kevalidan penisbahan mazhab kepada para sahabat dan tabi’in tersebut yang tidak melalui jalur para imam yang empat karena banyak terjadi al-kadzib (kebohongan) dengan mencatut nama sahabat dan tabi’in. Adapun para imam mazhab, mereka memang sudah mewakafkan diri untuk mengkaji berbagai riwayat dan fiqih yang diwariskan oleh para sahabat dan tabi’in. Dan, seperti dijelaskan tadi, mazhab tidak terbentuk atas usaha satu orang saja, melainkan kerja-keras banyak orang, sehingga tingkat kevalidannya lebih meyakinkan.

  • Ketiga: Tidak tertutup kemungkinan, memang, ada ulama yang kemampuannya menyamai kemampuan para imam yang empat. Dan mazhab mereka memang pernah eksis. Tapi, sayangnya mazhab mereka tidak dilestarikan dengan baik oleh murid-murid mereka, seperti yang terjadi pada Imam Laits bin Sa’ad di Mesir dan Imam al-Auza’i di Syam. Atau boleh jadi mazhab itu tidak lulus seleksi alam, seperti mazhab az-Zhahiri yang bertahan hanya sampai abad ketujuh hijriah saja.

Di samping itu, ada ulama yang sebenarnya bisa membuat mazhab sendiri (Mustaqill) seperti Imam Ibnu Suraij, Imam asy-Syairazi, Imam Taqiyuddin as-Subki, Imam Ibnu Daqiq al-Ied, bahkan juga Imam as-Suyuthi. Tapi mereka lebih memilih untuk bernaung di bawah salah satu mazhab yang sudah ada. Kenapa? Karena, ketika mereka melakukan ijtihad, ternyata hasilnya tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dihasilkan para imam mazhab yang empat.

Karena kerendahan hati mereka itulah dan jauh dari hubb syuhrah (Cinta popularitas), mereka tetap menisbatkan diri kepada mazhab yang ada.

Bagaimana? Anda berniat mendirikan mazhab sendiri agar dikenang sejarah? Ya kalau dikenang sebagai “Mujtahid baru”. Bagaimana kalau ternyata dikenang sebagai mujtahid abal-abal di masa new normal. Seperti ceramah Habib Yaman yang mengatakan yang pantas jadi muridnya, Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Malik dan Imam Hanbali. Kan ubrus ini namanya.

Penulis: Hendri Asmoro

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

semaglutid tablett fass

semaglutid tablett fass

semaglutid tablett fass, 16 Mei 2026 - Balas

injeção semaglutida efeitos colaterais

injeção semaglutida efeitos colaterais

injeção semaglutida efeitos colaterais, 15 Mei 2026 - Balas

fincar 5mg substitute

fincar 5mg substitute

fincar 5mg substitute, 15 Mei 2026 - Balas

semaglutida pastillas farmacia guadalajara

semaglutida pastillas farmacia guadalajara

semaglutida pastillas farmacia guadalajara, 15 Mei 2026 - Balas

stendra 200 mg tablet

stendra 200 mg tablet

stendra 200 mg tablet, 3 Mei 2026 - Balas

https://shorturl.fm/tkWz0

Jenna1205, 26 Apr 2026 - Balas

buy cenforce 200mg online

buy cenforce 200mg online

buy cenforce 200mg online, 26 Apr 2026 - Balas

vidalista 40 tadalafil tablets

vidalista 40 tadalafil tablets

vidalista 40 tadalafil tablets, 24 Apr 2026 - Balas
Fuqoha Asia Center
033, Tanggamus, Lampung, IDN
Luas Area300 m2
Luas Bangunan150 m2
Status LokasiPribadi
Tahun Berdiri2025-2026
  • Rekomendasi layanan taman bacaan online Fuqoha, pilihan tepat bagi siapapun yang mencari artikel islami masa kini yang disampaikan oleh para ahli dibidangnya.